Jumat, 23 November 2012

beras utah


“ bERAS Utah “
Oleh: rohDewanaya*
Indonesia merupakan Negara yang subur dan kaya raya oleh banyak pangan alam. Pulau yang bergandeng-gandeng mesra ini, merupakan wilayah yang strategis dari bumi yang bulat dan gemerlap oleh sinar matahari yang memancar, sehingga dari mulai tumbuh-tumbuhan seperti Pohon besar, bunga-bunga, Rerumputan, dan lain sebagainnya tumbuh tanpa dikomando oleh siapapun, sampai dengan hewan-hewan yang hidup tanpa ada rasa lapar. Yang menjadi sorot mata adalah tanah yang tidak akan mati (sUBUR) dari sebuah hembusan angin yang menghantam kehidupan.
Manusia adalah penghuni utama dari pulau-pulau yang sangat romantis ini. Manusia memiliki daya fikir yang kuat dibandingkan mahluk lainnnya yang menghuni di tempat sama (bumi pertiwi). Sehingga menjadikan segalah hal yang berurusan dengan kehidupan dibumi khususnya pulau-pulau yang sangat subur ini adalah manusia itu sendiri.
Cocok tanam merupakan hasil dari daya tangkap fikir manusia yang melalui proses panjang dan eksperimen-eksperimen yang sangat kuat. Melalui proses ini manusia mengetahui banyak manfaat yang terkandung dalam Negreri ini, khususnya pada nilai pangan alam. Dari proses yang panjang ini juga, menyebabkan banyak timbul persawahan yang tumbuh tanaman-tanaman yang dapat dikendalikan oleh manusia, khususnya tanaman PADI.
Tanaman padi yang banyak tumbuh diberbagai wilayah bumi pertiwi ini, dari mulai wilayah yang banyak orang sampai dengan wilayah yang berada di pelosok ujung, tetap subur dan menjulang tinggi sampai dengan membuahkan hasil yang dapat dinikmati oleh manusia. Dengan adanya padi yang mudah berkembang pesat di nusantara, maka evolusi padi menjadi beras timbul, dan banyak yang mengkonsumsi sehingga beras disepakti sebagai sumber makanan pokok manusia, khususnya di Negeri ini “Indonesia”.
Terlintas dari masyarakat yang selalu mengkonsumsi bijian yang putih, bulat lonjong, manis dan lengket bila dimainkan dalam tungkuh yang panas, menggambarkan masyarakat sudah mampu memenuhi kehidupan. Namun realitas yang tergambar bukanlah masyarakat terpenuhi oleh beras yang ada, tetapi banyak yang masih dalam kegelapan untuk mecari beras di negeri yang subur kaya raya oleh pangan alam ini.
Yang menjadi pertanyaan, apakah negeri ini sudah tidak lagi subur? Ataukah manusianya yang tidak mampu mencari? Atau juga, sedikit melirik pada pemerintahan negeri ini yang tidak bisa mengayomi masyarakat yang gelap dalam pencarian beras? Miris melihat negeri ini yang banyak diucapkan SURGA kasat mata tetapi masih gelap dengan pencarian butiran-butiran putih yang selalu diburuh banyak orang sebagai makanan utama.
Kesulitan masyarakat semakin merajarela dengan datangnya kehidupan yang mulai berhaluan kearah teknologi modern. Adanya suatu yang menjadikan daya imajinasi yang semakin liar untuk menjalankan kehidupan, maka terlintas dalam benak fikiran, betapah miris melihat negeri ini yang tidak bisa memenuhi kebutuhan manusia dengan perkembangan zaman. Hanya satu ucap yaitu “UTAH”.
Beras Utah, manifestasi dari gambaran tentang kehidupan masyarakat yang selalu gelap dalam penacarian beras yang banyak tumbuh di negeri yang subur kaya raya ini, sehingga tanpa adanya beras masyarakat megalami perubahan-perubahan dalam menjalankan kehidupan.
Bunga-bunga dalam gelap malam
Lautan api yang membanjiri negeri subur
Cacing tanah gemerlap mencari sinar memancar
Ketakutan tak henti mengaung dalam kehidupam
Keringat kering melalui pori-pori tanah yang subur
Butiran-butiran putih berterbangan mengenali pangan alam
Dari sudut yang tak terbatas tetap banjir dalam kegelapan.

Surabaya, 21 November 2012


Naskah “bERAS Utah”
Dipentaskan di Dies Natalisnya Teater HASTASA 
Pada kamis tanggal 29 November 2012 pukul 20.00 WIB, 
bertempat di Gelanggangan Mahasiswa (GEMA) IAIN Sunan Ampel Surabaya.


Produksi: Teater 2puluh
(AKU LAHIR UNTUK BERKARYA)