“
bERAS Utah “
Oleh: rohDewanaya*
Oleh: rohDewanaya*
Indonesia
merupakan Negara yang subur dan kaya raya oleh banyak pangan alam. Pulau yang
bergandeng-gandeng mesra ini, merupakan wilayah yang strategis dari bumi yang
bulat dan gemerlap oleh sinar matahari yang memancar, sehingga dari mulai
tumbuh-tumbuhan seperti Pohon besar, bunga-bunga, Rerumputan, dan lain
sebagainnya tumbuh tanpa dikomando oleh siapapun, sampai dengan hewan-hewan
yang hidup tanpa ada rasa lapar. Yang menjadi sorot mata adalah tanah yang
tidak akan mati (sUBUR) dari sebuah hembusan angin yang menghantam kehidupan.
Manusia
adalah penghuni utama dari pulau-pulau yang sangat romantis ini. Manusia
memiliki daya fikir yang kuat dibandingkan mahluk lainnnya yang menghuni di
tempat sama (bumi pertiwi). Sehingga menjadikan segalah hal yang berurusan
dengan kehidupan dibumi khususnya pulau-pulau yang sangat subur ini adalah
manusia itu sendiri.
Cocok
tanam merupakan hasil dari daya tangkap fikir manusia yang melalui proses
panjang dan eksperimen-eksperimen yang sangat kuat. Melalui proses ini manusia
mengetahui banyak manfaat yang terkandung dalam Negreri ini, khususnya pada
nilai pangan alam. Dari proses yang panjang ini juga, menyebabkan banyak timbul
persawahan yang tumbuh tanaman-tanaman yang dapat dikendalikan oleh manusia,
khususnya tanaman PADI.
Tanaman
padi yang banyak tumbuh diberbagai wilayah bumi pertiwi ini, dari mulai wilayah
yang banyak orang sampai dengan wilayah yang berada di pelosok ujung, tetap
subur dan menjulang tinggi sampai dengan membuahkan hasil yang dapat dinikmati
oleh manusia. Dengan adanya padi yang mudah berkembang pesat di nusantara, maka
evolusi padi menjadi beras timbul, dan banyak yang mengkonsumsi sehingga beras
disepakti sebagai sumber makanan pokok manusia, khususnya di Negeri ini
“Indonesia”.
Terlintas
dari masyarakat yang selalu mengkonsumsi bijian yang putih, bulat lonjong, manis
dan lengket bila dimainkan dalam tungkuh yang panas, menggambarkan masyarakat
sudah mampu memenuhi kehidupan. Namun realitas yang tergambar bukanlah
masyarakat terpenuhi oleh beras yang ada, tetapi banyak yang masih dalam
kegelapan untuk mecari beras di negeri yang subur kaya raya oleh pangan alam
ini.
Yang
menjadi pertanyaan, apakah negeri ini sudah tidak lagi subur? Ataukah
manusianya yang tidak mampu mencari? Atau juga, sedikit melirik pada
pemerintahan negeri ini yang tidak bisa mengayomi masyarakat yang gelap dalam
pencarian beras? Miris melihat negeri ini yang banyak diucapkan SURGA kasat mata tetapi masih gelap
dengan pencarian butiran-butiran putih yang selalu diburuh banyak orang sebagai
makanan utama.
Kesulitan
masyarakat semakin merajarela dengan datangnya kehidupan yang mulai berhaluan
kearah teknologi modern. Adanya suatu yang menjadikan daya imajinasi yang
semakin liar untuk menjalankan kehidupan, maka terlintas dalam benak fikiran,
betapah miris melihat negeri ini yang tidak bisa memenuhi kebutuhan manusia
dengan perkembangan zaman. Hanya satu ucap yaitu “UTAH”.
Beras
Utah, manifestasi dari gambaran tentang kehidupan masyarakat yang selalu gelap
dalam penacarian beras yang banyak tumbuh di negeri yang subur kaya raya ini,
sehingga tanpa adanya beras masyarakat megalami perubahan-perubahan dalam
menjalankan kehidupan.
Bunga-bunga
dalam gelap malam
Lautan
api yang membanjiri negeri subur
Cacing
tanah gemerlap mencari sinar memancar
Ketakutan
tak henti mengaung dalam kehidupam
Keringat
kering melalui pori-pori tanah yang subur
Butiran-butiran
putih berterbangan mengenali pangan alam
Dari
sudut yang tak terbatas tetap banjir dalam kegelapan.
Surabaya, 21
November 2012
Naskah
“bERAS Utah”
Dipentaskan di Dies Natalisnya Teater HASTASA
Pada kamis tanggal 29 November 2012 pukul 20.00 WIB,
bertempat di Gelanggangan Mahasiswa (GEMA) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Dipentaskan di Dies Natalisnya Teater HASTASA
Pada kamis tanggal 29 November 2012 pukul 20.00 WIB,
bertempat di Gelanggangan Mahasiswa (GEMA) IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Produksi:
Teater 2puluh
(AKU LAHIR UNTUK BERKARYA)
